Minggu, 02 Desember 2012

CERPENKU



TUHAN, BOLEHKAH AKU DILAHIRKAN KEMBALI ?

Vira Indriani iadalah gadis manis dengan mata coklat dan memiliki senyum yang sangat manis. Aku dibesarkan ditengah-tengah  keluarga yang  harmonis dan berkecukupan. Karena keluarga jugalah aku menjadi seorang siswi yang berprestasi dari bangku dasar. Saat ini aku menduduki bangku SMP kelas IX. Singkatnya vira adalah gadis yang beruntung karna dia memiliki semua kebahagiaan itu.

Keindahan itu tak berlangsung selamanya. Kehancuran itu berawal dari pertengkaran hebat antara mamah dan papahnya di suatu malam.  Aku hanya menangis dan ingin rasanya berteriak sekuat tenaga namun suara ini tertahan dan tak bisa keluar. Berbulan-bulan aku hidup dengan kejadian menyedihkan ini. Dan selama itu pula aku selalu berharap agar kejadian ini segera berakhir. Aku rindu pada suasana keluargaku yang harmonis. Kata yang  tak pernah kubayangkan sebelumnya kini terdengar hampir tiap hari yaitu “CERAI”.
“Ya ALLAH salah apa aku sampai kau berikan ujian seberat ini, aku rindu akan kehangatan keluargaku dulu, mana keluarga yang selalu kubanggakan?, mengapa mamah dan papah selalu bertengkar?? Aku lelah dengan keadaan ini” doaku dalam malam yang sunyi, air mata tak dapat lagi kubendung, semua yang ada di hatiku ku tumpahkan dan mengadu pada ALLAH saat aku shalat tahajud.
Hari-hariku berjalan dengan kesunyian. Pagi yang biasanya hangat dengan gurauan mamah dan papah, kini terasa hambar ketika yang ku temui seorang ibu yang sibuk dengan kerjaannya tanpa mempedulikan kehadiran anaknya. Setiap pagi selalu sarapan dan berangkat sekolah seorang diri. Terkadang ketika aku berpapasan dengan mereka yang diantar oleh ayah ataupun ibunya, tak tertahan rasanya membendung air mata ini. Sungguh aku sangat merindukan kehidupan seperti dulu.
Hari ini aku ada ulangan matematika, yang biasanya aku antusias mengerjakan tetapi tidak untuk hari ini, mataku terlalu lelah untuk melihat soal itu karna semalaman menangis ketika shalat tahajud, bahkan terasa pegal dan perih mata ini, tapi ini tak seberapa perihnya hatiku saat mengingat keluargaku yang sedang hancur berantakan.Semua murid langsung hanyut dalam kegiatannya. Tapi tidak denganku. Bagaimana mungkin aku bisa berkosentrasi menjawab semua soal itu dengan keadaanku seperti ini. Karna dalam otakku kini hanya berkutat bagaimana cara menghentikan semua kesedihan ini. Nurani ku memberontak, tapi apa daya ini ujian untukku dan aku harus kuat menjalaninya.
Tanpa ku sadari,waktu ulanganpun selesai tapi belum ada satupun soal yang kujawab. Pa Ramani guru matematikaku kebingungan melihat sikapku yang dari tadi gelisah, beliau menghampiriku.
“Ada apa denganmu vira?? Dari tadi bapa memperhatikan sikapmu aneh sekali, apa  kamu sedang sakit?? Mukamu terlihat pucat sekali” dengan lembut pa ramani bertanya padaku. Tetapi aku hanya tertunduk dan diam membisu karna aku bingung harus bilang apa kertas soalku masih bersih tanpa ada coretan sama sekali.
“Mengapa kertas ulangan mu tidak di isi satupun, padahal biasanya kamu antusias sekali dalam mengerjakan soal matematika” Pa Ramani melanjutkan pertanyaannya sambil kebingungan melihat kertasku yang bersih dari bolpoint.
“Maaf  pak aku sedang tidak enak badan, aku tidak dapat berkonsentrasi sedikitpun dalam mengerjakan soal ini” terpaksa aku berbohong untuk menghindari pertanyaan pertanyaan yang selanjutnya akan ditanyakan padaku apabila aku tak menjawab.
“Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja di ruang UKS ditemani dengan Irma” Pa Ramani memberikan solusi.
Akupun mengiyakan perintah Pa Ramani, aku berjalan ke ruang UKS dalam diam hatiku tak karuan.
Sesampainya di ruang UKS aku langsung berbaring di kasur yang sudah di sediakan pihak sekolah untuk ruangan ini.
“Kamu kenapa sih vir akhir akhir ini aku perhatikan kamu diam terus dan  tidak ada semangat sekolah, apa kamu sedang ada masalah??? Cerita dong sama aku, aku janji deh akan berusaha membantumu”. Dengan penuh perhatian dan lembut Irma sahabatku ini berbicara padaku. Aku tak kuat lagi membendung air mata ini, dan akupun menangis dalam pelukan sahabatku aku ceritakan semua masalahku selama ini, Irma pun tak kuasa menahan tangis mendengar ceritaku.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggggg bel berbunyi tanda kegiatan hari ini di sekoah telah usai, semua murid bersemangat unuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi berbeda denganku, aku sudah muak dengan keluargaku. Aku memutuskan untuk pergi ke taman sekedar menenangkan hatiku yang telah hancur. Iri setiap kali melihat anak yang sedang bermain bersama ibu mereka.
Aku berfikir apa lebih baik aku mati saja, percuma aku hidup seperti ini yang hanya menyiksa batinku. Tapi aku ingat perkataan terakhir mamah “Di balik semua kesedihan pasti ada senyuman”. Aku pun membuang pkiran itu jauh-jauh, aku harus buktikan pada mereka bahwa aku adalah seorang vira yang kuat dan tegar, aku akan lakukan segala cara untuk mempersatukan keluargaku yang telah hancur berantakan. Adzan maghrib pun berkumandang dan aku putuskan untuk shalat maghrib di masjid dekat taman. Rasa sejuk air wudhu menyirami tubuhku yang letih. Lantunan ayat suci menenangkan hatiku, Subhanallah sungguh indah ayat suci Al-Qur’an. Setelah shalat maghrib dan membaca beberapa surat ayat suci Al Qur’an aku memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Suasana rumah malam ini agak berbeda, tak ada suara orang tuaku yang bertengkar, aku aga sedikit lega. Akupun lebih memilih masuk kamar untuk menyendiri. Aku berjanji mulai hari ini aku akan menghadapi hidup lebih kuat dan tegar lagi.
Saat itu jam istirahat berlangsung, seperti biasa aku mengisi waktu luangku untuk bermain basket dengan teman-temanku, karna basket adalah salah satu hobiku untuk menghilangkan penat dalam diriku. Tapi entah mengapa badanku tiba-tiba saja terasa lemas sekali dan darah segar mengalir dari dalam hidungku (mimisan) dan akupun jatuh tak sadarkan diri, sahabatku Irma sangat panik sekali melihat keadaanku seperti itu. Memang sudah lama aku mengeluh pinggang dan perut bagian kiriku sakit, yang kurasakan bukanlah rasa sakit biasa, rasa sakit itu sungguh luar biasa menyiksa dan terkadang aktivitasku pun terganggu dengan rasa sakit yang sering kualami. Irma dan beberapa temanku membawaku ke dalam ruang UKS. Setelah beberapa saat akhirnya aku sadarkan diri.
“Vir aku rasa kamu perlu deh buat konsultasi ke dokter tentang rasa sakit yang sering kamu alami belakangan ini, aku takut kamu kenapa kenapa” bujuk Irma agak sedikit memohon.
“Aku yakin ko Ir aku baik baik aja, kamu  percaya deh sama aku. Ini tuh paling cuma penyakit biasa, ntar juga sembuh sendiri kalo aku udah istirahat, kamu ga usah khawatir ya” kataku menenangkan Irma. Walaupun dalam hatiku aku sering merasa khawatir perihal rasa sakit yang sering kualami ini. Tapi aku tak ingin merepotkan orang tuaku, jangankan untuk memperhatikanku, mengurus masalah mereka sendiri saja mungkin sudah sangat sulit sekali.
            Tapi bila kupikir pikir tak ada salahnya aku memeriksakan keadaanku ke Rumah Sakit. Aku memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit sendirian, aku tak ingin melibatkan orang tuaku. Setibanya di Rumah Sakit aku langsung mendaftar dan menunggu untuk di panggil dokter.
“Vira Ramadani” suara suster memanggilku untuk segera masuk ke dalam ruang dokter. Akupun melangkahkan kaki dengan sedikit perasaan ragu, jujur saja aku takut rasa sakit yang sering kualami ini bukan penyakit biasa yang biasanya kuacuhkan. Akupun duduk di memasuki ruang dokter dan mulai berbincang dengan dokter.
“Apa keluhan nak Vira??” Dokter mulai bertanya
“Aku sering merasakan sakit di pinggang dan di perut bagian kiriku dok rasa sakit yang ku rasakan cukup menyiksaku, aku juga sering sekali merasakan seluruh tubuhku terasa lemas sekali”. Keluhku pada dokter.
“Sudah berapa lama nak Vira merasakan semua rasa sakit itu??”. Dokter melanjutkan pertanyaan.
“Sudah sekitar enam bulanan Dok aku merasakan rasa sakit ini”. Jawabku
“Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya khawatir rasa sakit yang sering nak Vira alami bukanlah penyakit biasa”. Jawab dokter memberi penjelasan.
“Baiklah Dok”. Jawabku singkat.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan yang tak ku mengerti aku di persilahkan untuk duduk kembali. Lalu dokter melanjutkan pembicaraan sambil menunggu hasil laboratorium tentang kondisiku. Jantungku berdetak tak karuan keringat dingin mengucur deras dari tubuhku, rasa panik dan takut tercampur aduk dalam hatiku.
            Akhirnya suster tiba di ruangan dokter, suster itu menyerahkan beberapa berkas perihal keadaanku pada sang dokter. Kudapati ekspresi wajah yang tak enak dari sang dokter ketika beliau sedang mempelajari hasil labku. Dokter menarik nafas perlahan dan mencoba untuk memulai penjelasan, tetapi aku tak yakin ingin mendengar semua penjelasan dari dokter tentang keadaanku.
“Nak Vira harus bersabar menghadapi ini semua”. Dokter memulai penjelasan yang membuatku bingung dan panik.
“Apa maksud Dokter berkata seperti itu, tolong jelaskan ada apa dengan keadaanku??”. Tanyaku panik.
“Bila dilihat dari semua gejala yang sering Nak Vira alami dan hasil lab ini menunjukkan bahwa Nak Vira mengidap penyakit gagal ginjal stadium tiga”. Jelas sang Dokter.
Seketika jantungku terasa berhenti berdetak dan nafas ku pun tercekat, air mata tumpah begitu saja dari mataku.
“Secepatnya Nak Vira harus melakukan operasi dan mendapat donor ginjal yang cocok dengan ginjal Nak Vira, kalau tidak dilakukan operasi secepatnya ini akan membahayakan kondisi Nak Vira karena 50% ginjal Nak Vira tak dapat berfungsi lagi”. Dokter meneruskan penjelasan.
“Apa aku dapat sehat kembali denga menjalankan operasi??”. Aku berusaha untuk bertanya.
“Kemungkinan Nak Vira untuk sembuh 50%,  tapi saya akan berusaha melakukan berbagai cara untuk membantu Nak Vira agar bisa sehat kembali. Serahkan semua ini pada ALLAH nak, berdoalah memohon yang terbaik, karena hanya dengan kehendak-Nyalah Nak Vira bisa sembuh”. Jelas dokter berusaha menenangkanku.
“Apa tak ada jalan  lain Dok?? Aku tak mau operasi”. Aku takut bila melakukan operasi orang tuaku akan tahu keadaanku, walaupun cepat atau lambat mereka akan tahu keadaanku. Tapi tidak untuk sekarang, bagaimana perasaan mamah bila beliau tahu perihal keadaanku, saat ini pun batinnya sedang terguncang menghadapi semua masalah ini.
“Jalan terbaik hanya itu nak”. Jelas Dokter.
“Baiklah akan kupikirkan lagi, terimakasih Dok”. Aku hanya bisa menjawab seperti ini, dan akupun memutuskan untuk meninggalkan Rumah Sakit ini.
            Langkah kakiku terasa sangat berat sekali, lututku terasa sangat lemas bahkan hanya untuk sekedar berdiri. Aku memutuskan untuk pergi ke Taman menenangkan diri, ku harap disana hatiku akan merasa lebih tenang. Aku duduk di bangku taman menatap kosong ke langit. Yang bisa kulakukan hanyalah diam dan menangis, aku lelah dengan semua kehidupanku, entah apa yang akan kulakukan kedepannya. Tiba tiba datang sesosok pria berwajah lembut menyodorkan sapu tangan padaku. Tanpa ekspresi aku mengambil sapu tangan itu dari tangannya, aku melihat senyuman dari wajah lembutnya sebuah kehangatan yang lama kurindukan. Dia duduk di sebelahku.
“Perkenalkan namaku Rizki, maaf ya aku muncul di hadapanmu tiba tiba, tadi saat aku berkeliling taman aku melihatmu sedang menangis. Oh iya siapa namamu??”. Sapa Rizki mulai membuka pembicaraan. Tapi aku hanya terdiam dan tetap menunduk, aku tak kuat untuk berbicara, dalam benakku yang ada kini hanya semua masalah yang kualami, rasa takut bingung dan hancur semua menjadi satu, ingin rasanya aku mengakhiri hidupku tak kuat lagi bila aku tetap bertahan, aku bingung pada siapa aku mencurahkan semua masalahku yang sedang kualami kini.
“Cerita aja sama aku, insyaallah itu akan membuat perasaanmu sedikit lebih tenang”. Seolah Rizki tau apa yang sedang kufikirkan. Aku tak kuasa menahan tangis di hadapannya, air mata tumpah begitu saja dan aku pun bersandar  pada pundak Rizki, entah mengapa aku merasakan kehangatan dalam dirinya, kuceritakan semua masalahku padanya tanpa sedikit pun aku berhenti dalam tangisku. Entah mengapa aku merasa sedikit lebih tenang, apa dia adalah malaikat yang dikirim untukku yang akan membantuku menyelesaiakn semua masalah ini. Tak terasa adzan maghrib telah berkumandang, kami putuskan untuk shalat di masjid dekat taman, setelah itu aku memutuskan untuk pulang dan berstirahat.
“Aku antar pulang ya Vir”. Kata Rizki dengan senyum manisnya.
“Baiklah”. Jawabku singkat.
“Dimana alamat rumahmu?”. Tanya Rizki.
“Di Perumahan Taman Manggis Permai No.58, blok d”. Jawabku. Selama perjalanan aku tertidur mungkin karna aku kelelahan seharian ini menangis.
“Vir bangun kita sudah sampai di rumah kamu nih”. Rizki berusaha untuk membangunkan.
“Eh maaf ya Ki aku ketiduran, maaf ya ngerepotin kamu, terimakasih untuk hari ini dan terima kasih juga sudah mau mengantarku pulang”. Ucakpu pada Rizki tersipu malu.
“Oke deh ra, kapan kapan aku main ya ke rumah kamu, cepat sembuh ra istirahat ya langsung tidur, jangan lupa berdoa pada ALLAH, aku yakin semua ini ujian dan akan ada jalan keluarnya, tetap semangat”. Ucap Rizki. Ini lah yang kusuka darinya penuh semangat dan selalu membuatku tenang, akhirnya Rizki pulang. Aku langsung tertidur setiba di kamarku seakan aku lupa dengan semua masalahku.
            Waktu berlalu begitu cepat, keadaanku kian lama kian memburuk, dan sampai saat ini aku belum berani untuk bicara perihal keadaanku pada orang tuaku. Entah mengapa hari ini suasana rumah terasa lebih baik dari sebelumnya, orang tuaku tak seperti biasanya ikut sarapan denganku di meja makan, ini kali pertama setelah hampir kurang lebih delapan bulan aku tidak merasakn hal ini, memang semenjak kedatangan Rizki dalam hidupku emosiku lebih terkontrol rasa damai selalu datang menghampiri di setiap semua rasa gelisahku.
“Vira gimana keadaanmu?”. Tiba tiba saja mamah menanyakan keadaanku, aku kaget dan bingung akan menjawab apa, apa mungkin ini saatnya aku memberitahukan pada orang tuaku tentang keadaanku, tapi aku tak ingin merusak suasana hangat pagi ini.
“Aku baik baik saja mah, gimana keadaan mamah dan papah?”. Tanyaku, aku tau aku salah harusberbohong tapi kurasa itu lebih baik untuk saat ini.
“Mamah baik baik saja, cepat selsaikan sarapanmu nanti terlambat aja sekolahnya”. Jawab mamah, sedangkan papah hanya tersenyum.
“Iya mah”. Jawabku singkat.
            Di sekolah seperti biasa aku hanya duduk di bangku kelasku, semenjak aku tahu aku mengidap penyakit gagal ginjal aku tak pernah lagi bermain basket, Irma sering menanyakan padaku tentang keadaanku, tapi aku hanya menjawab baik baik saja karna aku tak mau ada yang tahu tentang keadaanku kini selain Rizki, walaupun Rizki sering memintaku untuk bercerita pada keluargaku perihal keadaanku, tetapi aku selalu menolak dan menjawab belum saatnya mereka tahu keadaanku. Aku merasa aneh pada saat istirahat badanku terasa lemah sekali dan rasa sakit yang sering datang kali ini berbeda, sakit yang kurasakan secara tiba tiba ini sangat menyiksaku sangat yang kurasakan seratus kali lipat lebih menyakitkan darah segar keluar dari hidungku pandanganku gelap dan seketika aku tak sadarkan diri, akupun langsung dibawa ke Rumah Sakit oleh pihak sekolah. Irma panik dan menelfon keluargaku, dengan perasaan khawatir orang tuaku datang ke Rumah Sakit dimana aku berada.
“Irma gimana keadaan Vira, dimana dia sekarang kami ingin menemuinya”. Tanya  mamah dan papah ketika tiba di Rumah Sakit.
“Vira keadannya kritis om tante, dia sekarang berada di ruang ICU sedang ditangani dokter”. Jawab Irma gugup sambil berderai air mata. Tidak lama dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah sedikit panik.
“Mana orang tua dari pasien tersebut? Saya ingin bicara”. Kata dokter
“Kami dok orang tua dari pasien di dalam”. Jawab papah
“Mari ikut ke ruangan saya”. Jawab dokter. Sesampai di ruangan dokter menjelaskan semua pada papah dan mamah tentang keadaanku, kini penyakitku sudah stadium empat dan sangat memprihatinkan. Orang tuaku kaget bukan main, mereka bingung mengapa Vira tak pernah bercerita tentang keadaanya pada mereka. Tapi kini apa boleh buat mereka harus menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit yang sangat serius.
“Dok secepatnya operasi anak saya kalau hanya itu jalan satu-satunya untuk menyembuhkan Vira, saya bersedia untuk mendonorkan ginjal saya apapun resikonya, secepatnya kita lakukan dok saya tak mau anak say semakin membirk keadaannya.” Pinta mamah pada dokter.
“Baiklah kita akan melakukan uji lab apakah ginjal anda cocok atau tidak dengan anak ibu.” Tegas dokter tanpa pikir panjang akhirnya mamah melakukan pemeriksaan dan Alhamdulillah cocok dengan ginjalku. Setelah itu mamah langsung masuk ke dalam ruanganku dan menggenggam tanganku erat erat, akhirnya aku sadar mamah dan papah spontan langsung memelukku dan mereka berdua menangis dalam pelukanku akupun ikut menangis.
“Papah mamah kalian ga perlu khawatir aku pasti sembuh, aku yakin itu.” Ucapku meenangkan mereka.
“Kamu akan segera menjalani opersi tansplantasi ginjal Vir, kamu harus sembuh kami mau melihat kamu kembali dalam keceriaanmu, maafkan papah dan mamah yang egois hanya memikirkan diri sendiri tanpa pernah memikirkan keadaanmu, papah janji setelah kamu sembuh apapun yang kamu minta akan papah turuti sebagai permintaan maaf papah dan untuk menebus semua kesalahan papah mamah.” Ucap papah
“Vira janji pah mah Vira pasti sembuh” Yakinku
            Hari ini adalah hari dimana aku akan melakukan operasi, aku takut tak dapat lagi membuka mataku dan tak dapat lagi melihat senyum papah, mamah, Irma, dan Rizki. Hari ini mereka semua hadir menemaniku dan memberi semangat untukku.
“Mah pah sebelum Vira di operasi Vira punya permintaan.” Ucapku
“Apa Vir?” tanya mamah dan papah.
“Aku mau kalian kembali seperti dulu, aku mau keluarga yang kubanggakan dulu harmonis kembali, bila aku bangun nanti setelah operasi aku mau melihat kalian bahagia bersama kembali, dan apabila aku tak dapat membuka kedua mataku lagi kuharap kalian tetap bahagia tanpa hadirku, itu permintaanku kuharap papah dan mamah dapat memenuhinya.” Pinta ku
“Papah dan mamah janji akan memnuhinya Vir, tapi kamu janji harus sembuh agar dapat bahagia bersama kami.” Jawab mamah dengan tangisan.
Akhirnya aku di operasi, selama opersi 12 jam aku menunjukkan keadaanku baik baik saja, tapi di saat operasi hampir selesai aku seperti menolak semua obat obatan yang di masukkan dalam tubuhku, jantungku mulai berdenyut dengan lambat nafasku sesak tak beraturan, dokter panik melihat keadaanku yang sangat menghawatirkan mereka melakukan segala cara, tapi ALLAH lah yang berkehendak aku mengalami koma, dokterpun keluar dari ruang operasi untuk memberikan kabar tentang keadaanku pada keluargaku.
“Dok bagaimana operasinya apa berjalan lancar? Bagaimana keadaan anak dan istriku?” Ayah segera menanyakan pada dokter.
Dokter mengambil nafas panjang dan mencoba untuk mengatakan keadaanku dengan berat hati.
“Istri anda baik-baik saja, operasi pun berjalan lancar tapi saat operasi akan selesai tiba-tiba saja anak anda kritis dan keadaannya tiba-tiba memburuk kami sudah berusaha sebisa kami, sekarang anak anda sedang koma pak, saya harap anda bersabar menerima semua ini, permisi.” Jelas dokter. Papah sangat syok dan khawatir air mata tumpah begitu saja beliau merasa bersalah akibat ke egoisannya Vira menjadi seperti ini. Dua hari pun berlalu keadaan mamah sudah membaiktapi tidak denganku, aku masih terbaring lemah di Rumah Sakit dengan keadaan koma. Hari itu semua keluargaku berkumpul termasuk Irma dan Rizki mereka bersama sama membacakan lantunan ayat suci untukku, dan mamah membisikkan sesuatu di telingaku.
“Vira mamah dan papah mohon kamu bangun, mamah dan papah sangat sayang sama Vira, mamah dan papah juga sudah kembali seperti dulu seperti yang Vira inginkan, Vira bangun ya nak kami semua menunggumu, mamah dan papah minta maaf karna telah egois selama ini, mamah dan papah janji akan bahagiakan vira.” Bisik mamah sambil menangis. Tiba tiba saja Vira memberikan respon dan perlahan membuka matanya, Subhanallah ini adalah mukjizat Allah. Segera papah memberitahukan keadaanku pada dokter, dan setelah dokter memeriksa keadaanku dokter mengatakan aku sudah membaik.
            Setelah satu minggu aku sadar aku di perbolehkan untuk pulang, dan kami menjadi keluarga yang bahagia, papah dan mamah kembali seperti dulu keluargaku menjadi harmonis kembali. Dan akupun bangga mempunyai sahabat seperti Irma dan Rizki yang selalu setia menemaniku. Aku bersyukur pada ALLAH aku telah di berikan kehidupan kedua yang lebih baik. Dulu aku sempat bertanya pada ALLAH, “TUHAN BOLEHKAH AKU DILAHIRKAN KEMBALI??” Dan ALLAH pun menjawabnya kini, aku tlah kembali ke kehidupan ku yang dulu, aku bersyukur karna penyakit ini keluarga utuh kembali, memang perjuanganku selama ini tidak mudah. “Di setiap tangisan pasti ada senyuman” itu semua terbukti sekarang telah hidup bahagia kembali....


TAMAT
By : Novi Ramadhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar