TUHAN, BOLEHKAH AKU DILAHIRKAN KEMBALI ?
Vira Indriani iadalah gadis manis dengan mata coklat
dan memiliki senyum yang sangat manis. Aku dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang
harmonis dan berkecukupan. Karena keluarga jugalah aku menjadi seorang
siswi yang berprestasi dari bangku dasar. Saat ini aku menduduki bangku SMP
kelas IX. Singkatnya vira adalah gadis yang beruntung karna dia memiliki semua
kebahagiaan itu.
Keindahan itu tak berlangsung selamanya. Kehancuran
itu berawal dari pertengkaran hebat antara mamah dan papahnya di suatu
malam. Aku hanya menangis dan ingin
rasanya berteriak sekuat tenaga namun suara ini tertahan dan tak bisa keluar.
Berbulan-bulan aku hidup dengan kejadian menyedihkan ini. Dan selama itu pula
aku selalu berharap agar kejadian ini segera berakhir. Aku rindu pada suasana
keluargaku yang harmonis. Kata yang tak
pernah kubayangkan sebelumnya kini terdengar hampir tiap hari yaitu “CERAI”.
“Ya ALLAH
salah apa aku sampai kau berikan ujian seberat ini, aku rindu akan kehangatan
keluargaku dulu, mana keluarga yang selalu kubanggakan?, mengapa mamah dan
papah selalu bertengkar?? Aku lelah dengan keadaan ini” doaku dalam malam yang
sunyi, air mata tak dapat lagi kubendung, semua yang ada di hatiku ku tumpahkan
dan mengadu pada ALLAH saat aku shalat tahajud.
Hari-hariku berjalan dengan kesunyian. Pagi yang
biasanya hangat dengan gurauan mamah dan papah, kini terasa hambar ketika yang
ku temui seorang ibu yang sibuk dengan kerjaannya tanpa mempedulikan kehadiran
anaknya. Setiap pagi selalu sarapan dan berangkat sekolah seorang diri.
Terkadang ketika aku berpapasan dengan mereka yang diantar oleh ayah ataupun
ibunya, tak tertahan rasanya membendung air mata ini. Sungguh aku sangat merindukan
kehidupan seperti dulu.
Hari ini aku ada ulangan matematika, yang biasanya aku
antusias mengerjakan tetapi tidak untuk hari ini, mataku terlalu lelah untuk
melihat soal itu karna semalaman menangis ketika shalat tahajud, bahkan terasa
pegal dan perih mata ini, tapi ini tak seberapa perihnya hatiku saat mengingat
keluargaku yang sedang hancur berantakan.Semua murid langsung hanyut dalam
kegiatannya. Tapi tidak denganku. Bagaimana mungkin aku bisa berkosentrasi
menjawab semua soal itu dengan keadaanku seperti ini. Karna dalam otakku kini
hanya berkutat bagaimana cara menghentikan semua kesedihan ini. Nurani ku
memberontak, tapi apa daya ini ujian untukku dan aku harus kuat menjalaninya.
Tanpa ku sadari,waktu ulanganpun selesai tapi belum
ada satupun soal yang kujawab. Pa Ramani guru matematikaku kebingungan melihat
sikapku yang dari tadi gelisah, beliau menghampiriku.
“Ada apa
denganmu vira?? Dari tadi bapa memperhatikan sikapmu aneh sekali, apa kamu sedang sakit?? Mukamu terlihat pucat
sekali” dengan lembut pa ramani bertanya padaku. Tetapi aku hanya tertunduk dan
diam membisu karna aku bingung harus bilang apa kertas soalku masih bersih
tanpa ada coretan sama sekali.
“Mengapa
kertas ulangan mu tidak di isi satupun, padahal biasanya kamu antusias sekali
dalam mengerjakan soal matematika” Pa Ramani melanjutkan pertanyaannya sambil
kebingungan melihat kertasku yang bersih dari bolpoint.
“Maaf pak aku sedang tidak enak badan, aku tidak dapat
berkonsentrasi sedikitpun dalam mengerjakan soal ini” terpaksa aku berbohong
untuk menghindari pertanyaan pertanyaan yang selanjutnya akan ditanyakan padaku
apabila aku tak menjawab.
“Ya sudah
kalau begitu kamu istirahat saja di ruang UKS ditemani dengan Irma” Pa Ramani
memberikan solusi.
Akupun
mengiyakan perintah Pa Ramani, aku berjalan ke ruang UKS dalam diam hatiku tak
karuan.
Sesampainya
di ruang UKS aku langsung berbaring di kasur yang sudah di sediakan pihak
sekolah untuk ruangan ini.
“Kamu kenapa
sih vir akhir akhir ini aku perhatikan kamu diam terus dan tidak ada semangat sekolah, apa kamu sedang
ada masalah??? Cerita dong sama aku, aku janji deh akan berusaha membantumu”.
Dengan penuh perhatian dan lembut Irma sahabatku ini berbicara padaku. Aku tak
kuat lagi membendung air mata ini, dan akupun menangis dalam pelukan sahabatku
aku ceritakan semua masalahku selama ini, Irma pun tak kuasa menahan tangis
mendengar ceritaku.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggggg bel berbunyi tanda
kegiatan hari ini di sekoah telah usai, semua murid bersemangat unuk pulang ke
rumah mereka masing-masing. Tapi berbeda denganku, aku sudah muak dengan
keluargaku. Aku memutuskan untuk pergi ke taman sekedar menenangkan hatiku yang
telah hancur. Iri setiap kali melihat anak yang sedang bermain bersama ibu
mereka.
Aku berfikir apa lebih baik aku mati saja, percuma aku
hidup seperti ini yang hanya menyiksa batinku. Tapi aku ingat perkataan
terakhir mamah “Di balik semua kesedihan pasti ada senyuman”. Aku pun membuang
pkiran itu jauh-jauh, aku harus buktikan pada mereka bahwa aku adalah seorang
vira yang kuat dan tegar, aku akan lakukan segala cara untuk mempersatukan
keluargaku yang telah hancur berantakan. Adzan maghrib pun berkumandang dan aku
putuskan untuk shalat maghrib di masjid dekat taman. Rasa sejuk air wudhu
menyirami tubuhku yang letih. Lantunan ayat suci menenangkan hatiku,
Subhanallah sungguh indah ayat suci Al-Qur’an. Setelah shalat maghrib dan
membaca beberapa surat ayat suci Al Qur’an aku memutuskan untuk kembali pulang
ke rumah. Suasana rumah malam ini agak berbeda, tak ada suara orang tuaku yang
bertengkar, aku aga sedikit lega. Akupun lebih memilih masuk kamar untuk
menyendiri. Aku berjanji mulai hari ini aku akan menghadapi hidup lebih kuat
dan tegar lagi.
Saat itu jam istirahat berlangsung, seperti biasa aku
mengisi waktu luangku untuk bermain basket dengan teman-temanku, karna basket
adalah salah satu hobiku untuk menghilangkan penat dalam diriku. Tapi entah
mengapa badanku tiba-tiba saja terasa lemas sekali dan darah segar mengalir
dari dalam hidungku (mimisan) dan akupun jatuh tak sadarkan diri, sahabatku
Irma sangat panik sekali melihat keadaanku seperti itu. Memang sudah lama aku
mengeluh pinggang dan perut bagian kiriku sakit, yang kurasakan bukanlah rasa
sakit biasa, rasa sakit itu sungguh luar biasa menyiksa dan terkadang
aktivitasku pun terganggu dengan rasa sakit yang sering kualami. Irma dan
beberapa temanku membawaku ke dalam ruang UKS. Setelah beberapa saat akhirnya
aku sadarkan diri.
“Vir aku
rasa kamu perlu deh buat konsultasi ke dokter tentang rasa sakit yang sering
kamu alami belakangan ini, aku takut kamu kenapa kenapa” bujuk Irma agak
sedikit memohon.
“Aku yakin
ko Ir aku baik baik aja, kamu percaya
deh sama aku. Ini tuh paling cuma penyakit biasa, ntar juga sembuh sendiri kalo
aku udah istirahat, kamu ga usah khawatir ya” kataku menenangkan Irma. Walaupun
dalam hatiku aku sering merasa khawatir perihal rasa sakit yang sering kualami
ini. Tapi aku tak ingin merepotkan orang tuaku, jangankan untuk
memperhatikanku, mengurus masalah mereka sendiri saja mungkin sudah sangat
sulit sekali.
Tapi bila kupikir pikir tak ada
salahnya aku memeriksakan keadaanku ke Rumah Sakit. Aku memutuskan untuk pergi
ke Rumah Sakit sendirian, aku tak ingin melibatkan orang tuaku. Setibanya di
Rumah Sakit aku langsung mendaftar dan menunggu untuk di panggil dokter.
“Vira Ramadani”
suara suster memanggilku untuk segera masuk ke dalam ruang dokter. Akupun
melangkahkan kaki dengan sedikit perasaan ragu, jujur saja aku takut rasa sakit
yang sering kualami ini bukan penyakit biasa yang biasanya kuacuhkan. Akupun
duduk di memasuki ruang dokter dan mulai berbincang dengan dokter.
“Apa keluhan
nak Vira??” Dokter mulai bertanya
“Aku sering
merasakan sakit di pinggang dan di perut bagian kiriku dok rasa sakit yang ku
rasakan cukup menyiksaku, aku juga sering sekali merasakan seluruh tubuhku
terasa lemas sekali”. Keluhku pada dokter.
“Sudah
berapa lama nak Vira merasakan semua rasa sakit itu??”. Dokter melanjutkan
pertanyaan.
“Sudah
sekitar enam bulanan Dok aku merasakan rasa sakit ini”. Jawabku
“Kita harus
melakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya khawatir rasa sakit yang sering nak
Vira alami bukanlah penyakit biasa”. Jawab dokter memberi penjelasan.
“Baiklah
Dok”. Jawabku singkat.
Setelah
melalui beberapa pemeriksaan yang tak ku mengerti aku di persilahkan untuk
duduk kembali. Lalu dokter melanjutkan pembicaraan sambil menunggu hasil
laboratorium tentang kondisiku. Jantungku berdetak tak karuan keringat dingin
mengucur deras dari tubuhku, rasa panik dan takut tercampur aduk dalam hatiku.
Akhirnya suster tiba di ruangan
dokter, suster itu menyerahkan beberapa berkas perihal keadaanku pada sang
dokter. Kudapati ekspresi wajah yang tak enak dari sang dokter ketika beliau
sedang mempelajari hasil labku. Dokter menarik nafas perlahan dan mencoba untuk
memulai penjelasan, tetapi aku tak yakin ingin mendengar semua penjelasan dari
dokter tentang keadaanku.
“Nak Vira
harus bersabar menghadapi ini semua”. Dokter memulai penjelasan yang membuatku
bingung dan panik.
“Apa maksud
Dokter berkata seperti itu, tolong jelaskan ada apa dengan keadaanku??”.
Tanyaku panik.
“Bila
dilihat dari semua gejala yang sering Nak Vira alami dan hasil lab ini
menunjukkan bahwa Nak Vira mengidap penyakit gagal ginjal stadium tiga”. Jelas
sang Dokter.
Seketika
jantungku terasa berhenti berdetak dan nafas ku pun tercekat, air mata tumpah begitu
saja dari mataku.
“Secepatnya
Nak Vira harus melakukan operasi dan mendapat donor ginjal yang cocok dengan
ginjal Nak Vira, kalau tidak dilakukan operasi secepatnya ini akan membahayakan
kondisi Nak Vira karena 50% ginjal Nak Vira tak dapat berfungsi lagi”. Dokter
meneruskan penjelasan.
“Apa aku
dapat sehat kembali denga menjalankan operasi??”. Aku berusaha untuk bertanya.
“Kemungkinan
Nak Vira untuk sembuh 50%, tapi saya
akan berusaha melakukan berbagai cara untuk membantu Nak Vira agar bisa sehat kembali.
Serahkan semua ini pada ALLAH nak, berdoalah memohon yang terbaik, karena hanya
dengan kehendak-Nyalah Nak Vira bisa sembuh”. Jelas dokter berusaha
menenangkanku.
“Apa tak ada
jalan lain Dok?? Aku tak mau operasi”.
Aku takut bila melakukan operasi orang tuaku akan tahu keadaanku, walaupun
cepat atau lambat mereka akan tahu keadaanku. Tapi tidak untuk sekarang,
bagaimana perasaan mamah bila beliau tahu perihal keadaanku, saat ini pun
batinnya sedang terguncang menghadapi semua masalah ini.
“Jalan terbaik
hanya itu nak”. Jelas Dokter.
“Baiklah
akan kupikirkan lagi, terimakasih Dok”. Aku hanya bisa menjawab seperti ini,
dan akupun memutuskan untuk meninggalkan Rumah Sakit ini.
Langkah kakiku terasa sangat berat
sekali, lututku terasa sangat lemas bahkan hanya untuk sekedar berdiri. Aku
memutuskan untuk pergi ke Taman menenangkan diri, ku harap disana hatiku akan
merasa lebih tenang. Aku duduk di bangku taman menatap kosong ke langit. Yang
bisa kulakukan hanyalah diam dan menangis, aku lelah dengan semua kehidupanku,
entah apa yang akan kulakukan kedepannya. Tiba tiba datang sesosok pria berwajah
lembut menyodorkan sapu tangan padaku. Tanpa ekspresi aku mengambil sapu tangan
itu dari tangannya, aku melihat senyuman dari wajah lembutnya sebuah kehangatan
yang lama kurindukan. Dia duduk di sebelahku.
“Perkenalkan
namaku Rizki, maaf ya aku muncul di hadapanmu tiba tiba, tadi saat aku
berkeliling taman aku melihatmu sedang menangis. Oh iya siapa namamu??”. Sapa
Rizki mulai membuka pembicaraan. Tapi aku hanya terdiam dan tetap menunduk, aku
tak kuat untuk berbicara, dalam benakku yang ada kini hanya semua masalah yang
kualami, rasa takut bingung dan hancur semua menjadi satu, ingin rasanya aku
mengakhiri hidupku tak kuat lagi bila aku tetap bertahan, aku bingung pada
siapa aku mencurahkan semua masalahku yang sedang kualami kini.
“Cerita aja
sama aku, insyaallah itu akan membuat perasaanmu sedikit lebih tenang”. Seolah
Rizki tau apa yang sedang kufikirkan. Aku tak kuasa menahan tangis di
hadapannya, air mata tumpah begitu saja dan aku pun bersandar pada pundak Rizki, entah mengapa aku merasakan
kehangatan dalam dirinya, kuceritakan semua masalahku padanya tanpa sedikit pun
aku berhenti dalam tangisku. Entah mengapa aku merasa sedikit lebih tenang, apa
dia adalah malaikat yang dikirim untukku yang akan membantuku menyelesaiakn
semua masalah ini. Tak terasa adzan maghrib telah berkumandang, kami putuskan
untuk shalat di masjid dekat taman, setelah itu aku memutuskan untuk pulang dan
berstirahat.
“Aku antar
pulang ya Vir”. Kata Rizki dengan senyum manisnya.
“Baiklah”.
Jawabku singkat.
“Dimana
alamat rumahmu?”. Tanya Rizki.
“Di
Perumahan Taman Manggis Permai No.58, blok d”. Jawabku. Selama perjalanan aku
tertidur mungkin karna aku kelelahan seharian ini menangis.
“Vir bangun
kita sudah sampai di rumah kamu nih”. Rizki berusaha untuk membangunkan.
“Eh maaf ya
Ki aku ketiduran, maaf ya ngerepotin kamu, terimakasih untuk hari ini dan
terima kasih juga sudah mau mengantarku pulang”. Ucakpu pada Rizki tersipu
malu.
“Oke deh ra,
kapan kapan aku main ya ke rumah kamu, cepat sembuh ra istirahat ya langsung
tidur, jangan lupa berdoa pada ALLAH, aku yakin semua ini ujian dan akan ada
jalan keluarnya, tetap semangat”. Ucap Rizki. Ini lah yang kusuka darinya penuh
semangat dan selalu membuatku tenang, akhirnya Rizki pulang. Aku langsung
tertidur setiba di kamarku seakan aku lupa dengan semua masalahku.
Waktu berlalu begitu cepat,
keadaanku kian lama kian memburuk, dan sampai saat ini aku belum berani untuk bicara
perihal keadaanku pada orang tuaku. Entah mengapa hari ini suasana rumah terasa
lebih baik dari sebelumnya, orang tuaku tak seperti biasanya ikut sarapan
denganku di meja makan, ini kali pertama setelah hampir kurang lebih delapan
bulan aku tidak merasakn hal ini, memang semenjak kedatangan Rizki dalam
hidupku emosiku lebih terkontrol rasa damai selalu datang menghampiri di setiap
semua rasa gelisahku.
“Vira gimana
keadaanmu?”. Tiba tiba saja mamah menanyakan keadaanku, aku kaget dan bingung
akan menjawab apa, apa mungkin ini saatnya aku memberitahukan pada orang tuaku
tentang keadaanku, tapi aku tak ingin merusak suasana hangat pagi ini.
“Aku baik
baik saja mah, gimana keadaan mamah dan papah?”. Tanyaku, aku tau aku salah
harusberbohong tapi kurasa itu lebih baik untuk saat ini.
“Mamah baik
baik saja, cepat selsaikan sarapanmu nanti terlambat aja sekolahnya”. Jawab
mamah, sedangkan papah hanya tersenyum.
“Iya mah”.
Jawabku singkat.
Di sekolah seperti biasa aku hanya
duduk di bangku kelasku, semenjak aku tahu aku mengidap penyakit gagal ginjal
aku tak pernah lagi bermain basket, Irma sering menanyakan padaku tentang
keadaanku, tapi aku hanya menjawab baik baik saja karna aku tak mau ada yang
tahu tentang keadaanku kini selain Rizki, walaupun Rizki sering memintaku untuk
bercerita pada keluargaku perihal keadaanku, tetapi aku selalu menolak dan
menjawab belum saatnya mereka tahu keadaanku. Aku merasa aneh pada saat
istirahat badanku terasa lemah sekali dan rasa sakit yang sering datang kali
ini berbeda, sakit yang kurasakan secara tiba tiba ini sangat menyiksaku sangat
yang kurasakan seratus kali lipat lebih menyakitkan darah segar keluar dari
hidungku pandanganku gelap dan seketika aku tak sadarkan diri, akupun langsung
dibawa ke Rumah Sakit oleh pihak sekolah. Irma panik dan menelfon keluargaku,
dengan perasaan khawatir orang tuaku datang ke Rumah Sakit dimana aku berada.
“Irma gimana
keadaan Vira, dimana dia sekarang kami ingin menemuinya”. Tanya mamah dan papah ketika tiba di Rumah Sakit.
“Vira
keadannya kritis om tante, dia sekarang berada di ruang ICU sedang ditangani
dokter”. Jawab Irma gugup sambil berderai air mata. Tidak lama dokter keluar
dari ruang ICU dengan wajah sedikit panik.
“Mana orang
tua dari pasien tersebut? Saya ingin bicara”. Kata dokter
“Kami dok
orang tua dari pasien di dalam”. Jawab papah
“Mari ikut
ke ruangan saya”. Jawab dokter. Sesampai di ruangan dokter menjelaskan semua
pada papah dan mamah tentang keadaanku, kini penyakitku sudah stadium empat dan
sangat memprihatinkan. Orang tuaku kaget bukan main, mereka bingung mengapa
Vira tak pernah bercerita tentang keadaanya pada mereka. Tapi kini apa boleh
buat mereka harus menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit yang
sangat serius.
“Dok
secepatnya operasi anak saya kalau hanya itu jalan satu-satunya untuk
menyembuhkan Vira, saya bersedia untuk mendonorkan ginjal saya apapun
resikonya, secepatnya kita lakukan dok saya tak mau anak say semakin membirk
keadaannya.” Pinta mamah pada dokter.
“Baiklah
kita akan melakukan uji lab apakah ginjal anda cocok atau tidak dengan anak
ibu.” Tegas dokter tanpa pikir panjang akhirnya mamah melakukan pemeriksaan dan
Alhamdulillah cocok dengan ginjalku. Setelah itu mamah langsung masuk ke dalam
ruanganku dan menggenggam tanganku erat erat, akhirnya aku sadar mamah dan
papah spontan langsung memelukku dan mereka berdua menangis dalam pelukanku
akupun ikut menangis.
“Papah mamah
kalian ga perlu khawatir aku pasti sembuh, aku yakin itu.” Ucapku meenangkan
mereka.
“Kamu akan
segera menjalani opersi tansplantasi ginjal Vir, kamu harus sembuh kami mau
melihat kamu kembali dalam keceriaanmu, maafkan papah dan mamah yang egois
hanya memikirkan diri sendiri tanpa pernah memikirkan keadaanmu, papah janji
setelah kamu sembuh apapun yang kamu minta akan papah turuti sebagai permintaan
maaf papah dan untuk menebus semua kesalahan papah mamah.” Ucap papah
“Vira janji
pah mah Vira pasti sembuh” Yakinku
Hari ini adalah hari dimana aku akan
melakukan operasi, aku takut tak dapat lagi membuka mataku dan tak dapat lagi
melihat senyum papah, mamah, Irma, dan Rizki. Hari ini mereka semua hadir
menemaniku dan memberi semangat untukku.
“Mah pah
sebelum Vira di operasi Vira punya permintaan.” Ucapku
“Apa Vir?”
tanya mamah dan papah.
“Aku mau
kalian kembali seperti dulu, aku mau keluarga yang kubanggakan dulu harmonis
kembali, bila aku bangun nanti setelah operasi aku mau melihat kalian bahagia
bersama kembali, dan apabila aku tak dapat membuka kedua mataku lagi kuharap
kalian tetap bahagia tanpa hadirku, itu permintaanku kuharap papah dan mamah
dapat memenuhinya.” Pinta ku
“Papah dan
mamah janji akan memnuhinya Vir, tapi kamu janji harus sembuh agar dapat
bahagia bersama kami.” Jawab mamah dengan tangisan.
Akhirnya aku di operasi, selama opersi 12 jam aku
menunjukkan keadaanku baik baik saja, tapi di saat operasi hampir selesai aku
seperti menolak semua obat obatan yang di masukkan dalam tubuhku, jantungku
mulai berdenyut dengan lambat nafasku sesak tak beraturan, dokter panik melihat
keadaanku yang sangat menghawatirkan mereka melakukan segala cara, tapi ALLAH
lah yang berkehendak aku mengalami koma, dokterpun keluar dari ruang operasi
untuk memberikan kabar tentang keadaanku pada keluargaku.
“Dok bagaimana operasinya apa berjalan lancar?
Bagaimana keadaan anak dan istriku?” Ayah segera menanyakan pada dokter.
Dokter
mengambil nafas panjang dan mencoba untuk mengatakan keadaanku dengan berat
hati.
“Istri anda
baik-baik saja, operasi pun berjalan lancar tapi saat operasi akan selesai
tiba-tiba saja anak anda kritis dan keadaannya tiba-tiba memburuk kami sudah
berusaha sebisa kami, sekarang anak anda sedang koma pak, saya harap anda
bersabar menerima semua ini, permisi.” Jelas dokter. Papah sangat syok dan
khawatir air mata tumpah begitu saja beliau merasa bersalah akibat ke
egoisannya Vira menjadi seperti ini. Dua hari pun berlalu keadaan mamah sudah
membaiktapi tidak denganku, aku masih terbaring lemah di Rumah Sakit dengan
keadaan koma. Hari itu semua keluargaku berkumpul termasuk Irma dan Rizki
mereka bersama sama membacakan lantunan ayat suci untukku, dan mamah
membisikkan sesuatu di telingaku.
“Vira mamah
dan papah mohon kamu bangun, mamah dan papah sangat sayang sama Vira, mamah dan
papah juga sudah kembali seperti dulu seperti yang Vira inginkan, Vira bangun
ya nak kami semua menunggumu, mamah dan papah minta maaf karna telah egois
selama ini, mamah dan papah janji akan bahagiakan vira.” Bisik mamah sambil
menangis. Tiba tiba saja Vira memberikan respon dan perlahan membuka matanya,
Subhanallah ini adalah mukjizat Allah. Segera papah memberitahukan keadaanku
pada dokter, dan setelah dokter memeriksa keadaanku dokter mengatakan aku sudah
membaik.
Setelah satu minggu aku sadar aku di
perbolehkan untuk pulang, dan kami menjadi keluarga yang bahagia, papah dan
mamah kembali seperti dulu keluargaku menjadi harmonis kembali. Dan akupun
bangga mempunyai sahabat seperti Irma dan Rizki yang selalu setia menemaniku.
Aku bersyukur pada ALLAH aku telah di berikan kehidupan kedua yang lebih baik.
Dulu aku sempat bertanya pada ALLAH, “TUHAN BOLEHKAH AKU DILAHIRKAN KEMBALI??”
Dan ALLAH pun menjawabnya kini, aku tlah kembali ke kehidupan ku yang dulu, aku
bersyukur karna penyakit ini keluarga utuh kembali, memang perjuanganku selama
ini tidak mudah. “Di setiap tangisan pasti ada senyuman” itu semua terbukti
sekarang telah hidup bahagia kembali....
TAMAT
By : Novi
Ramadhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar