PENGARUH
PROFESIONALISME AUDITOR Dan ETIKA PROFESI TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT
MATERIALITAS
NO
ISSN: 2303
A.M. Kurniawanda
Jurusan Akuntansi,
Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi
Abstrak
Penelitian ini
bertujuan untuk menguji dan membuktikan secara empiris tentang Pengaruh
Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi secara simultan dan parsial terhadap
Pertimbangan Tingkat Materialitas. Analisis data dilakukan dengan metode
regresi linier berganda dan pengujian hipotesis dengan uji simultan (uji F) dan
uji parsial (uji t).
Penelitian ini
menggunakan data primer dan diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 9 KAP
di Kota Palembang. Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang
bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang
berjumlah 9 KAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Profesionalisme Auditor
yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian,
Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi dan Etika Profesi secara
simultan berpengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.
Secara parsial
dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, dan Hubungan Sesama Profesi
yang tidak mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Akan
tetapi Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, dan Etika Profesi secara parsial
mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.
PENDAHULUAN
Di era globalisasi sekarang ini,
dimana bisnis tidak lagi mengenal batas Negara, kebutuhan akan laporan keuangan
yang dapat dipercaya tidak dapat dielakkan lagi. Eksternal auditor yang
independen menjadi salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan
oleh banyak orang untuk dapat meletakkan kepercayaan pada pemeriksaan dan
pendapat yang diberikan sehingga profesionalisme menjadi tuntutan utama
seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal.
Gambaran seseorang yang
profesional dalam profesi eksternal auditor dicerminkan dalam lima dimensi
menurut Hall R Syahrir, (2002 : 7), yaitu : 1. pengabdian pada profesi, 2.
kewajiban sosial, 3. kemandirian, 4. kepercayaan pada profesi, 5. hubungan
dengan rekan seprofesi. Eksternal auditor yang memiliki
profesionalisme
yang tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para pengambil
keputusan. Untuk memenuhi perannya yang membutuhkan tanggung jawab yang besar,
eksternal auditor harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang memadai
sebagai eksternal auditor.
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah diuraikan, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian
ini adalah apakah profesionalisme auditor dan etika profesi secara simultan dan
parsial mempunyai pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas ?. Adapun
Untuk menguji dan membuktikan secara empiris bahwa profesionalisme auditor dan
etika profesi berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pertimbangan
tingkat materialitas.
METODE PENELITIAN
1.
Operasionalisasi
Variabel
Pada penelitian
ini variabel independennya adalah profesionalisme auditor yang terdiri dari
pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan pada profesi,
hubungan dengan sesama profesi dan etika profesi. Sedangkan variabel
dependennya adalah pertimbangan tingkat materialitas. Pengabdian pada profesi
adalah dedikasi profesional dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang
dimiliki serta tetap melaksanakan tugasnya meskipun imbalan intrinsiknya
berkurang. Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan profesi
serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun professional karena
adanya pekerjaan tersebut.
Kemandirian
merupakan suatu pandangan seorang profesional yang harus mampu membuat
keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain. Keyakinan pada profesi adalah
suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional
adalah rekan sesama profesi, bukan orang luar yang tidak mempunyai kompeten
dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. Hubungan dengan sesama profesi
menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal
dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Etika
profesi merupakan kode etik IAPI dan aturan etika Kompartemen Akuntan Publik,
Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) dan standar pengendalian mutu auditing
merupakan acuan yang baik untuk mutu auditing (Agoes, 2004).
2.
Populasi
dan Sampel Penelitian
Populasi
penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan
Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Jumlah sampel dalam
penelitian ini adalah seluruh auditor yang ada di KAP di Palembang yaitu
berjumlah 62 auditor. Dalam penelitian ini kriteria penentuan sampel tidak
dibatasi oleh jabatan auditor pada KAP (partner, senior, atau junior auditor)
sehingga semua auditor yang bekerja di KAP Palembang dapat diikutsertakan
sebagai responden.
3.
Jenis
dan Sumber Data
Jenis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dapat berupa
opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap
suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoro,
2009). Data-data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui metode survei
menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden.
4.
Teknik
Analisa Data
MSI (Method of SuccessiveInterval)
Jenis data yang
terkumpul dari kuesioner merupakan data nominal dan ordinal, khususnya yang
menyangkut identitas/karakteristik responden. Sedangkan data yang menyangkut
jawaban berskala likert, pada dasarnya adalah data ordinal. Oleh karena itu,
untuk keperluan analisis data ordinal perlu ditransformasikan notasi
masing-masing jawaban tersebut menjadi data interval dengan menggunakan method
of successive interval (Sumarsono, 2002) untuk menetapkan skor (scale value)
tiap-tiap butir pertanyaan.
Uji Kualitas Data
Menurut Hair
dalam Poniman (2004), kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrumen
penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas.
Uji Validitas (Ketepatan)
Validitas
merupakan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek
penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2008).
Pendekatan yang digunakan dalam uji validitas (analisis butir) pada penelitian
ini adalah dengan membandingkan nilai r (corrected item – total correlation)
dengan r tabel sehingga dapat diketahui item pertanyaan mana yang gugur dan
sahih. Item butir pertanyaan sahih jika r hitung > r tabel (Ghozali, 2009).
Uji Reliabilitas (Konsistensi)
Uji reliabilitas
digunakan untuk menunujukkan ukuran kestabilan dan konsistensi dari konsep
ukuran instrumen atau alat ukur, sehingga nilai yang diukur tidak berubah dalam
nilai tertentu. Konsep reliabilitas menurut pendekatan ini adalah konsistensi
diantara butir–butir pernyataan atau pernyataan dalam suatu instrumen.
Reliabilitas diukur dengan uji statistik cronbach alpha (a). Nunally dalam
Ghozali (2009) menyatakan bahwa suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel
jika nilai cronbach alpha > 0,60.
Analisis Kualitatif
Analisis
statistik deskriptif adalah yang berbentuk uraian dari hasil penelitian yang
didukung oleh teori dan data yang telah ditabulasi kemudian diikhtisarkan.
Analisis ini digunakan untuk memperkuat analisis kuantitatif (Sugiyono, 2008).
Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi
klasik yang terdiri dari asumsi normalitas, heteroskedisitas dan
multikolinieritas
Uji Normalitas
Uji normalitas
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan
independen keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2009). Uji
normalitas dalam penelitian ini dapat ditempuh dengan menggunakan grafik normal
probability plot yang dimana data terlihat menyebar mengikuti garis diagonal
dan diagram histogram yang tidak condong kekiri dan kekanan sehingga dapat dikatakan
data berdistribusi normal.
Uji Heteroskedastisitas
Uji
heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan lain tetap, maka disebut
homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Dalam
penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah
dengan melihat grafik plot. Pada grafik plot, jika ada pola tertentu, seperti
titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar
kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan
jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik meyebar diatas dan dibawah
angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
Uji Multikolinieritas
Uji
multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya
korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya
multikolinearitas didalam model regresi yaitu dengan melihat (1) nilai tolerance
dan lawannya (2) variance inflation faktor (VIF).
Analisis Regresi
Berganda
Penelitian ini
menggunakan model analisis regresi berganda, hal ini menunjukkan hubungan
(korelasi) antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya. Analisis tersebut
dapat digunakan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen, dengan model analisis sebagai berikut:
Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X+ b5X5 + b6X6 + e
Keterangan :
Y = Pertimbangan tingkat Materialistas.
B1,b2,…..,b6 =
Koefisien regresi
X1 =
Pengabdian pada profesi
X2 =
Kewajiban social
X3 =
Kemandirian
X4 = Keyakinan pada Proyeksi
X5 =
Hubungan dengan Rekan Seprofesi
X6 =
Etika Profesi
A =
konstanta
E =
Galat (error terms)
5.
Uji
Hipotesis
Uji F
Untuk menguji
hipotesis pertama (H1) maka dilakukan uji F atau simultan, dimana uji statistik
F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang
dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel
terkait atau dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji F ini adalah
signifikasi (α) 0,05 atau 5% untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini diterima atau ditolak.
Uji t
Untuk menguji
hipotesis kedua (H2) sampai hipotesis kelima (H7) maka dilakukan uji t. Uji t
dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen secara
parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Kesimpulan yang diambil dalam
uji t ini signifikasi (α) 0,05 atau 5% atau keyakinan 95%.
Koefisien Determinasi (R2)
Nilai koefisien
determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat
terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi
variabel dependen, semakin mendekati nilai 1 atau 100%, maka semakin besar
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Uji Kualitas Data
Uji Validitas
Pengujian
validitas instrumen dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 19.0, nilai
validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation. Jika angka
korelasi yang diperoleh lebih besar dari pada angka kritik (rhitung >
rtabel) maka instrumen tersebut dikatakan valid. Angka kritik pada penelitian
ini adalah df= N-2= 57–2 = 55 dengan taraf signifikan 5% maka angka kritik
untuk uji validitas pada penelitian adalah 0,265.
Tabel 1
Hasil Uji Validitas
|
No
|
Variable
|
R hitung
|
R table
|
Keterangan
|
|
1
|
Pengabdian pada profesi
|
0,303**-0,888**
|
0,265
|
Valid
|
|
2
|
Kewajiban social
|
0,463**-0,712**
|
0,265
|
Valid
|
|
3
|
Kemandirian
|
0,827**-0,52**
|
0,265
|
Valid
|
|
4
|
Keyakinan terhadap Profesi
|
0,562**-0,738**
|
0,265
|
Valid
|
|
5
|
Hubungan Dengan Sesama Profesi
|
0,363**-0,865**
|
0,265
|
Valid
|
|
6
|
Etika Profesi
|
0,761**-0,867**
|
0,265
|
Valid
|
Sumber : Data
Primer yang diolah, 2012
Uji Reliabilitas
Teknik Statistik yang digunakan
untuk penguji tersebut dengan koefisien cronbach’s
alpha dengan bantuan program software
SPSS versi 19.0 Cronbach’s Alpha merupakan
uji reliabilitas untuk alternative jawaban lebih dari dua. Menurut Ghozali
(2004:42) suatu instrument dikatakan reliable jika memiliki koefisien cronbach’s alpha > 0,6
Tabel 1
Hasil Uji Reliabilitas
|
No
|
Variable
|
R hitung
|
R table
|
Keterangan
|
|
1
|
Pengabdian pada profesi
|
0,773
|
0,6
|
Reliabel
|
|
2
|
Kewajiban social
|
0,626
|
0,6
|
Reliabel
|
|
3
|
Kemandirian
|
0,893
|
0,6
|
Reliabel
|
|
4
|
Keyakinan terhadap Profesi
|
0,680
|
0,6
|
Reliabel
|
|
5
|
Hubungan Dengan Sesama Profesi
|
0,806
|
0,6
|
Reliabel
|
|
6
|
Etika Profesi
|
0,854
|
0,6
|
Reliabel
|
Sumber : Data
Primer yang diolah, 2012
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Gambar
1
Grafik Uji Normalitas
Gambar 2
Histogram
Uji Normalitas
Uji
Multikolinieritas
Multikolinieritas dapat dilihat pada
tolerance value atau variance inflasion factor (VIF). Apabila
Tolerance value dibawah 0,10 atau
nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinieritas (GHozali, 2009)
Tabel
3
Hasil
Uji Multikolinieritas
Coefficients A
|
Model
|
Colinearity statistics
|
|
|
1. (Constant)
|
Tolerance
|
VIP
|
|
Pengabdian terhadap
profesi
|
,945
|
1,058
|
|
Kewajiban sosial
|
,763
|
1,311
|
|
kemandirian
|
,709
|
1,411
|
|
Keyakinan Terhadap
Profesi
|
,905
|
1,105
|
|
Hubungan sesama Profesi
|
,927
|
1,079
|
|
Etika Profesi
|
,937
|
1,067
|
Uji Hipotesis
Uji F
Uji F digunakan
untuk menguji tingkat signifikansi koefisien regresi variabel independen secara
simultan terhadap variabel dependen, yaitu denganmemperhatikan signifikan uji F
pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan
uji F lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variabel
independen terhadap variabel dependen
Tabel
4
Hasil
Uji F
ANOVA B
ANOVA B
|
Model
|
Sum
Of Squares
|
df
|
Mean
Square
|
F
|
SIG
|
|
Regression
|
748,730
|
6
|
124,788
|
5,529
|
,000A
|
|
Residual
|
1128,464
|
50
|
22,569
|
|
|
|
Total
|
1877,195
|
56
|
|
|
|
A .Predictors:
(Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan Terhadap Profesi,
Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian Terhadap Profesi, Kemandirian
B. Dependent
Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data
Diolah SPSS
Uji t
Uji t digunakan
untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap variabel dependen, yaitu dengan memperhatikan
signifikan uji t pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika
nilai signifikan uji t lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua
variable independen terhadap variable dependen.
Tabel
5
Hasil
UJI T
Coefficients
|
|
Unstandardized
Coefficients
|
|
Standar
dized Coefficients
|
|
|
|
Model
|
B
|
Std
Error
|
Betta
|
T
|
SIG
|
|
(Constant)
|
14,774
|
11,243
|
|
1,314
|
,195
|
|
Pengabdian
Terhadap Profesi
|
,054
|
,228
|
,027
|
,236
|
,815
|
|
Kewajiban
Sosial
|
,054
|
,260
|
,026
|
,207
|
,837
|
|
Kemandirian
|
,826
|
,333
|
,323
|
2,480
|
,017
|
|
Keyakinan
Terhadap Profesi
|
,805
|
,289
|
,322
|
2,791
|
,007
|
|
Hubungan
Sesama Profesi
|
,125
|
,175
|
,081
|
,713
|
,479
|
|
Etika
Profesi
|
1,575
|
,329
|
,543
|
4,791
|
,000
|
A.Dependent
Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data
Diolah SPSS
1. Pengaruh
pengabdian terhadap profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil
pengujian hipotesis variabel pengabdian terhadap profesi diperoleh nilai p
value sebesar 0,815 dan thitung 0,236. Oleh karena p value lebih besar dari
0.05, maka pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat
materialitas.
2. Pengaruh
kewajiban sosial terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil
pengujian hipotesis variabel kewajiban sosial diperoleh nilai p value sebesar
0,837 dan thitung 0,207. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka
kewajiban sosial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
3. Pengaruh
kemandirian terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil
pengujian hipotesis variabel kemandirian diperoleh nilai p value sebesar 0,017
dan thitung 2,480. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka kemandirian
berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
4. Pengaruh
keyakinan terhadap profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil pengujian hipotesis
variabel keyakinan terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,007 dan thitung 2,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka
keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
5.
Pengaruh
hubungan sesama profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil
pengujian hipotesis variabel hubungan dengan sesama profesi diperoleh nilai p value
sebesar 0,479 dan thitung 0.713. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05,
maka hubungan dengan sesama profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat
materialitas.
6. Pengaruh
etika profesi terhadap tingkat materialitas.
Dari hasil
pengujian hipotesis variabel etika profesi diperoleh nilai p value sebesar
0,000 dan thitung 4,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka etika
profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
Hasil
Persamaan Regresi
Tabel
6
Hasil Persamaan regresi
Hasil Persamaan regresi
|
|
Unstandardized
coefficients
|
|
|
Model
|
B
|
Std.
error
|
|
Constant
|
14,774
|
11,243
|
|
Pengabdian
terhadap profesi
|
,054
|
,228
|
|
Kewajiban
social
|
,054
|
,260
|
|
Kemandirian
|
,826
|
,333
|
|
Keyakinan
Terhadap Profesi
|
,805
|
,289
|
|
Hubungan
Sesama Profesi
|
,125
|
,175
|
|
Etika
Profesi
|
1,575
|
,329
|
A.Dependent
Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data
Diolah SPSS
Y= 14.774
+ 0,054 X1 + 0,054 X2 + 0,826 X3 + 0,504 X4+ 0,125X5+ 1,575X6
Analisis
Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) mengukur berapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variable independen.
Tabel 7
Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R²)
Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R²)
Model SummaryB
|
Model
|
R
|
R
Square
|
Adjusted
R Square |
Std
Error of The Estimate |
|
1
|
,632
|
,399
|
,327
|
475,071
|
a.
Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan pada
Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian pada Profesi, Kemandirian
b. Dependent
Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data
Diolah SPSS
PEMBAHASAN
Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa variabel pengabdian terhadap profesi yang
dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal
ini diketahui bahwa nilai pengabdian terhadap profesi (Sign t) 0,815> 0,05.
Selain dilihat dari nilai probabilitas, pengabdian terhadap profesi dapat pula
dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 0,236 < ttabel
2,008, artinya pengabdian terhadap profesi secara parsial tidak berpengaruh
terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa
pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat
materialitas.
Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa variabel kewajiban sosial yang dimasukkan dalam
regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui
bahwa nilai kewajiban sosial (Sign t) 0,837 > 0,05. Selain dilihat dari
nilai probabilitas, kewajiban sosial dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan
diketahui nilai thitung 0,207 < ttabel 2,008, artinya kewajiban sosial
secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan
Mardiyah (2006) yang menyatakan bahwa kewajiban sosial tidak berpengaruh
terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa variabel kemandirian yang dimasukkan dalam regresi
berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai
kewajiban sosial (Sign t) 0,017 < 0,05. Selain dilihat dari nilai
probabilitas, kemandirian dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui
nilai thitung 2.480 > ttabel 2,008, artinya
kemandirian
secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Theresia dkk (2003) dan
Rahmawati (1997) yang menyatakan bahwa kemandirian berpengaruh terhadap
pertimbangan tingkat materialitas.
Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa variabel keyakinan terhadap profesi yang dimasukkan
dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui
bahwa nilai keyakinan terhadap profesi (Sign t) 0,007 < 0,05. Selain dilihat
dari nilai probabilitas, keyakinan terhadap profesi dapat pula dilihat dari
nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 2,791 > ttabel 2,008, artinya
keyakinan terhadap profesi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat
materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa keyakinan terhadap
profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa variabel hubungan sesama profesi yang dimasukkan
dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui
bahwa nilai hubungan sesama profesi (Sign t) 0,479 > 0,05. Selain dilihat
dari nilai probabilitas, hubungan sesama profesi dapat pula dilihat dari nilai
thitung, dan diketahui nilai thitung 0,713 < ttabel 2,008, artinya hubungan
sesama profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa hubungan sesama profesi tidak
berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Hasil pengujian
hipotesis menunjukkan bahwa variabel etika profesi yang dimasukkan dalam
regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa
nilai etika profesi (Sign t) 0,000 < 0,05. Selain dilihat dari nilai
probabilitas, etika profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan
diketahui nilai thitung 4,791 > ttabel 2,008, artinya etika profesi secara
parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arleen Herawaty dan Yulius Susanto
(2009) yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh terhadap pertimbangan
tingkat materialitas.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil pengujian diperoleh kesimpulan sebagai berikut Secara simultan
Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap Tingkat Materialitas. Sedangkan secara parsial variabel
Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban
Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, ada tiga
variabel yang berpengaruh terhadap tingkat materialitas yaitu : kemandirian,
keyakinan terhadap profesi, dan etika profesi. Sedangkan pengabdian terhadap
profesi, kewajiban sosial, dan hubungan sesama profesi tidak berpengaruh
terhadap tingkat materialitas.