Selasa, 15 November 2016

Tugas Softskill



ISSN: 2302-8556

PENGARUH INDEPENDENSI, PROFESIONALISME, TINGKAT PENDIDIKAN, ETIKA PROFESI, PENGALAMAN, DAN KEPUASAN KERJA AUDITOR PADA KUALITAS
AUDIT KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI BALI
                                                                       

Putu Septiani Futri
Dan
Gede Juliarsa


Latar Belakang

Definisi etika

Secara garis besar etika dapat didefinisikan sebagai serangkaian prinsip atau nilai moral yang dimiliki oleh setiap orang. Dalam hal ini kebutuhan etika dalam masyarakat sangat mendesak sehingga sangatlah lazim untuk memasukkan nilai-nilai etika ini ke dalam undang-undang atau peraturan yang berlaku di negara kita. Banyaknya nilai etika yang ada tidak dapat dijadikan undang-undang atau peraturan karena sifat nilai-nilai etika sangat tergantung pada pertimbangan seseorang.

Definisi Auditing

          Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria – kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.

Definisi Etika dalam Auditing

          Etika dalam Auditing adalah suatu prinsip untuk melakukan proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria – kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.

Oleh sebab itu alasan kenapa etika auditing itu penting adalah agar audit yang sedang mengaudit di setiap perusahaan tidak termakan bujuk rayu sang pemilik perusahaan atau (melakukan Kecurangan).seperti mengubah laporan penilaian yang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sedang dialami.
Oleh  Karena itu  memang sudah kewajiban seorang audit untuk melaporkan hasil data yang sesuai dengan apa yang telah ia teliti meskipun hasil nya akan merugikan bagi perusahaan tersebut.

   1.      Pengaruh Independensi pada Kualitas audit

      Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali yang terlihat dari tingkat signifikansi (0,079)>α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Ardani (2010), Saripudin (2012), dan Wulandari (2012). Namun ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Permatasari(2011), Wahyuni (2013) yang menunjukkan bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Independensi auditor adalah landasan dari profesi akuntan publik. Penurunan atau kurangnya independensi auditor adalah sebuah ancaman, dimana akan menyebabkan banyak perusahaan runtuh dan skandal korporasi di seluruh dunia. Tanpa independensi kualitas audit dan tugas deteksi audit akan dipertanyakan, Mansouri dkk. (2009).
Keadaan seringkali mengganggu independensi auditor, karena ia dibayar klien atas jasanya, sebagai penjual jasa, auditor cenderung memenuhi keinginan klien (Ling Lin, 2012). Persaingan antar Kantor Akuntan Publik bisa jadi pemicu kurangnya independensi auditor, sehingga auditor rentan mengikuti kemauan dari klien agar tidak kehilangan pendapatannya.

   2.      Pengaruh Profesionalisme pada Kualitas Audit

       Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,057)> α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wulandari (2012). Namun ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Faisal dkk. (2012) yang menyatakan bahwa profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Untuk meningkatkan kualitas audit, seorang auditor dituntut agar bertindak profesional dalam melakukan pemeriksaan. Auditor yang profesional akan lebih baik dalam menghasilkam audit yang dibutuhkan dan berdampak pada peningkatan kualitas audit. Adanya peningkatan kualitas audit auditor maka meningkat pula kepercayaan pihak yang membutuhkan jasa profesional. Dengan demikian profesionalisme perlu ditingkatkan, karena sangat penting dalam melakukan pemeriksaan sehingga akan memberikan pengaruh pada kualitas audit auditor. Harapan masyarakat terhadap tuntutan transparasi dan akuntabilitas akan terpenuhi jika auditor dapat menjalankan profesionalisme dengan baik sehingga masyarakat dapat menilai kualitas audit.

   3.      Pengaruh Tingkat Pendidikan pada Kualitas Audit

     Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa tingkat pendidikan terbukti berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,005)<α (0,05). Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan auditor maka semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap kualitas audit seorang auditor. Hal ini memberikan suatu gambaran dimana tingkat pendidikan yang dimiliki seorang auditor akan meningkatkan kualitasnya, karena dengan jenjang pendidikan yang tinggi, hal ini berkecendrungan kuat akan meningkatkan wawasan serta kemampuan seorang auditor untuk memegang tanggung jawab serta meningkatkan perannya dalam menjalankan tugasnya.
Dengan tingkat pendidikan yang tinggi pula tentunya akses informasi yang dimilikinya menjadi lebih banyak sehingga kompetensi dalam menjalankan tugas akan semakin meningkat dan hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitasnya. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Anggraini, Rani, dan Lismawati (2013), yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh pada kualitas audit.

   4.      Pengaruh Etika Profesi pada Kualitas Audit

     Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,008)<α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi etika profesi auditor maka semakin baik pula kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali. Hasil penelitian ini mendukung penelitian oleh Rahma (2012) dan Wahyuni (2013), yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh pada kualitas audit. Dengan menjunjung tinggi etika profesi diharapkan tidak terjadi kecurangan diantara para auditor, sehingga dapat memberikan pendapat auditan yang benar-benar sesuai dengan laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Jadi, dalam menjalankan pekerjaannya, seorang auditor dituntut untuk mematuhi Etika Profesi yang telah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan diantara para akuntan yang menjurus pada sikap curang. Dengan diterapkannya etika profesi diharapkan seorang auditor dapat memberikan pendapat yang sesuai dengan laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Jadi, semakin tinggi Etika Profesi dijunjung oleh auditor, maka kualitas audit juga akan semakin bagus.



   5.      Pengaruh Pengalaman pada Kualitas Audit

     Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa pengalaman tidak berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,066)>α (0,05). Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian Badjuri (2011) dan Septiari (2013). Hal ini menunjukkan semakin rendah pengalaman auditor maka semakin rendah pula kualitas audit auditor tersebut.

    Adapun faktor yang menyebabkan kurangnya pengalaman pada auditor adalah, kurang lamanya bekerja pada Kantor Akuntan Publik, dalam hal ini adalah audit junior, dan selain itu kurangnya kompleksitas tugas yang dihadapi auditor, semakin sering auditor menghadapi tugas yang kompleks maka semakin bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Begitu juga dengan risiko audit yang dihadapi oleh seorang auditor juga akan dipengaruhi oleh pengalaman dari auditor tersebut. Auditor akan berusaha untuk memperoleh bukti-bukti yang diperlukan untuk mendukung judgment tersebut. Dalam melaksanakan tugas auditnya seorang auditor dituntut untuk membuat suatu judgment yang maksimal. Untuk itu auditor akan berusaha untuk melaksanakan tugasnya tersebut dengan segala kemampuannya dan berusaha untuk mengindari risiko yang mungkin akan timbul dari judgment yang dibuatnya tersebut.



    6.      Pengaruh Kepuasan Kerja Auditor pada Kualitas Audit

     Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,033)<α (0,05). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Gautama dkk. (2010), Widyasari (2010). Respon seseorang meliputi respon terhadap komunikasi organisasi, supervisor, kompensasi, promosi, teman sekerja, kebijaksanaan organisasi dan hubungan interpersonal dalam organisasi.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka simpulan penelitian adalah:


       1.      Independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.

       2.      Profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.

      3.      Tingkat pendidikan profesionalisme berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

      4.      Etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

      5.      Pengalaman tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.

     6.      Kepuasan kerja auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit.


      Jadi dari 6 variable yang diteliti di atas terdapat 3 variable yang simultan atau saling terkait yaitu Tingkat pendidikan Profesionalisme ,Etika profesi Dan Kepuasan Kerja Auditor.

      
Namun hal yang sangat terkait dari ke 3 variable tersebut adalah Tingkat pendidikan Dan Etika Profesi. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan auditor maka semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap kualitas dari seorang auditor tersebut. semakin tinggi etika profesi auditor maka semakin baik pula kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali. Karena 2 variable tersebut merupakan hal pokok atau utama yang banyak dicari di setiap perusahaan akuntan publik.



Selasa, 18 Oktober 2016

Tugas Softskill Etika Profesi Akuntansi



PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR Dan ETIKA PROFESI TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS
          NO ISSN: 2303

A.M. Kurniawanda
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membuktikan secara empiris tentang Pengaruh Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi secara simultan dan parsial terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Analisis data dilakukan dengan metode regresi linier berganda dan pengujian hipotesis dengan uji simultan (uji F) dan uji parsial (uji t).

Penelitian ini menggunakan data primer dan diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 9 KAP di Kota Palembang. Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi dan Etika Profesi secara simultan berpengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.

Secara parsial dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, dan Hubungan Sesama Profesi yang tidak mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Akan tetapi Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, dan Etika Profesi secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.

PENDAHULUAN
Di era globalisasi sekarang ini, dimana bisnis tidak lagi mengenal batas Negara, kebutuhan akan laporan keuangan yang dapat dipercaya tidak dapat dielakkan lagi. Eksternal auditor yang independen menjadi salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan oleh banyak orang untuk dapat meletakkan kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang diberikan sehingga profesionalisme menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal.

Gambaran seseorang yang profesional dalam profesi eksternal auditor dicerminkan dalam lima dimensi menurut Hall R Syahrir, (2002 : 7), yaitu : 1. pengabdian pada profesi, 2. kewajiban sosial, 3. kemandirian, 4. kepercayaan pada profesi, 5. hubungan dengan rekan seprofesi. Eksternal auditor yang memiliki

profesionalisme yang tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para pengambil keputusan. Untuk memenuhi perannya yang membutuhkan tanggung jawab yang besar, eksternal auditor harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang memadai sebagai eksternal auditor.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah apakah profesionalisme auditor dan etika profesi secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas ?. Adapun Untuk menguji dan membuktikan secara empiris bahwa profesionalisme auditor dan etika profesi berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pertimbangan tingkat materialitas.


METODE PENELITIAN

1.      Operasionalisasi Variabel

Pada penelitian ini variabel independennya adalah profesionalisme auditor yang terdiri dari pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan pada profesi, hubungan dengan sesama profesi dan etika profesi. Sedangkan variabel dependennya adalah pertimbangan tingkat materialitas. Pengabdian pada profesi adalah dedikasi profesional dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki serta tetap melaksanakan tugasnya meskipun imbalan intrinsiknya berkurang. Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun professional karena adanya pekerjaan tersebut.

Kemandirian merupakan suatu pandangan seorang profesional yang harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain. Keyakinan pada profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, bukan orang luar yang tidak mempunyai kompeten dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. Hubungan dengan sesama profesi menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Etika profesi merupakan kode etik IAPI dan aturan etika Kompartemen Akuntan Publik, Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) dan standar pengendalian mutu auditing merupakan acuan yang baik untuk mutu auditing (Agoes, 2004).

2.      Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Palembang yang berjumlah 9 KAP. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang ada di KAP di Palembang yaitu berjumlah 62 auditor. Dalam penelitian ini kriteria penentuan sampel tidak dibatasi oleh jabatan auditor pada KAP (partner, senior, atau junior auditor) sehingga semua auditor yang bekerja di KAP Palembang dapat diikutsertakan sebagai responden.

3.      Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoro, 2009). Data-data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui metode survei menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden.



4.      Teknik Analisa Data

MSI (Method of SuccessiveInterval)

Jenis data yang terkumpul dari kuesioner merupakan data nominal dan ordinal, khususnya yang menyangkut identitas/karakteristik responden. Sedangkan data yang menyangkut jawaban berskala likert, pada dasarnya adalah data ordinal. Oleh karena itu, untuk keperluan analisis data ordinal perlu ditransformasikan notasi masing-masing jawaban tersebut menjadi data interval dengan menggunakan method of successive interval (Sumarsono, 2002) untuk menetapkan skor (scale value) tiap-tiap butir pertanyaan.

Uji Kualitas Data

Menurut Hair dalam Poniman (2004), kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas.

Uji Validitas (Ketepatan)

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2008). Pendekatan yang digunakan dalam uji validitas (analisis butir) pada penelitian ini adalah dengan membandingkan nilai r (corrected item – total correlation) dengan r tabel sehingga dapat diketahui item pertanyaan mana yang gugur dan sahih. Item butir pertanyaan sahih jika r hitung > r tabel (Ghozali, 2009).

Uji Reliabilitas (Konsistensi)

Uji reliabilitas digunakan untuk menunujukkan ukuran kestabilan dan konsistensi dari konsep ukuran instrumen atau alat ukur, sehingga nilai yang diukur tidak berubah dalam nilai tertentu. Konsep reliabilitas menurut pendekatan ini adalah konsistensi diantara butir–butir pernyataan atau pernyataan dalam suatu instrumen. Reliabilitas diukur dengan uji statistik cronbach alpha (a). Nunally dalam Ghozali (2009) menyatakan bahwa suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha > 0,60.


Analisis Kualitatif

Analisis statistik deskriptif adalah yang berbentuk uraian dari hasil penelitian yang didukung oleh teori dan data yang telah ditabulasi kemudian diikhtisarkan. Analisis ini digunakan untuk memperkuat analisis kuantitatif (Sugiyono, 2008).

Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik yang terdiri dari asumsi normalitas, heteroskedisitas dan multikolinieritas

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independen keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2009). Uji normalitas dalam penelitian ini dapat ditempuh dengan menggunakan grafik normal probability plot yang dimana data terlihat menyebar mengikuti garis diagonal dan diagram histogram yang tidak condong kekiri dan kekanan sehingga dapat dikatakan data berdistribusi normal.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot. Pada grafik plot, jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik meyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).

Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas didalam model regresi yaitu dengan melihat (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation faktor (VIF).
Analisis Regresi Berganda

Penelitian ini menggunakan model analisis regresi berganda, hal ini menunjukkan hubungan (korelasi) antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya. Analisis tersebut dapat digunakan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, dengan model analisis sebagai berikut:

Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X+ b5X5 + b6X6 + e

Keterangan :

Y                     =          Pertimbangan tingkat Materialistas.
B1,b2,…..,b6 =           Koefisien regresi
X1                   =           Pengabdian pada profesi
X2                   =           Kewajiban social
X3                   =           Kemandirian
X4                   =          Keyakinan pada Proyeksi
X5                   =           Hubungan dengan Rekan Seprofesi
X6                   =           Etika Profesi
A                     =           konstanta
E                     =           Galat (error terms)








5.      Uji Hipotesis

Uji F

Untuk menguji hipotesis pertama (H1) maka dilakukan uji F atau simultan, dimana uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terkait atau dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji F ini adalah signifikasi (α) 0,05 atau 5% untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak.

Uji t

Untuk menguji hipotesis kedua (H2) sampai hipotesis kelima (H7) maka dilakukan uji t. Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Kesimpulan yang diambil dalam uji t ini signifikasi (α) 0,05 atau 5% atau keyakinan 95%.

Koefisien Determinasi (R2)

Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen, semakin mendekati nilai 1 atau 100%, maka semakin besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2009).


HASIL DAN PEMBAHASAN

1.Uji Kualitas Data

Uji Validitas

Pengujian validitas instrumen dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 19.0, nilai validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation. Jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari pada angka kritik (rhitung > rtabel) maka instrumen tersebut dikatakan valid. Angka kritik pada penelitian ini adalah df= N-2= 57–2 = 55 dengan taraf signifikan 5% maka angka kritik untuk uji validitas pada penelitian adalah 0,265.

Tabel 1

Hasil Uji Validitas

No
Variable
R hitung
R table
Keterangan
1
Pengabdian pada profesi
0,303**-0,888**
0,265
Valid
2
Kewajiban social
0,463**-0,712**
0,265
Valid
3
Kemandirian
0,827**-0,52**
0,265
Valid
4
Keyakinan terhadap Profesi
0,562**-0,738**
0,265
Valid
5
Hubungan Dengan Sesama Profesi
0,363**-0,865**
0,265
Valid
6
Etika Profesi
0,761**-0,867**
0,265
Valid

Sumber : Data Primer yang diolah, 2012

Uji Reliabilitas

            Teknik Statistik yang digunakan untuk penguji tersebut dengan koefisien cronbach’s alpha dengan bantuan program software SPSS versi 19.0 Cronbach’s Alpha merupakan uji reliabilitas untuk alternative jawaban lebih dari dua. Menurut Ghozali (2004:42) suatu instrument dikatakan reliable jika memiliki koefisien cronbach’s alpha > 0,6



Tabel 1

Hasil Uji Reliabilitas

No
Variable
R hitung
R table
Keterangan
1
Pengabdian pada profesi
0,773
0,6
Reliabel
2
Kewajiban social
0,626
0,6
Reliabel
3
Kemandirian
0,893
0,6
Reliabel
4
Keyakinan terhadap Profesi
0,680
0,6
Reliabel
5
Hubungan Dengan Sesama Profesi
0,806
0,6
Reliabel
6
Etika Profesi
0,854
0,6
Reliabel

Sumber : Data Primer yang diolah, 2012


Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas

Gambar 1

                                                Grafik Uji Normalitas










       Gambar 2

Histogram Uji Normalitas








 Uji Multikolinieritas

            Multikolinieritas dapat dilihat pada tolerance value atau variance inflasion factor (VIF). Apabila Tolerance value dibawah 0,10 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinieritas (GHozali, 2009)

Tabel 3

Hasil Uji Multikolinieritas

Coefficients A


Model
 Colinearity statistics  

1. (Constant)
Tolerance
VIP
Pengabdian terhadap profesi
,945
1,058
Kewajiban sosial
,763
1,311
kemandirian
,709
1,411
Keyakinan Terhadap Profesi
,905
1,105
Hubungan sesama Profesi
,927
1,079
Etika Profesi
,937
1,067



Uji Hipotesis
Uji F

Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikansi koefisien regresi variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen, yaitu denganmemperhatikan signifikan uji F pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji F lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variabel independen terhadap variabel dependen

Tabel 4
Hasil Uji F
ANOVA B

Model
Sum Of Squares
df
Mean Square
F
SIG
Regression
748,730
6
124,788
5,529
,000A
Residual
1128,464
50
22,569


Total
1877,195
56




A .Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan Terhadap Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian Terhadap Profesi, Kemandirian

B. Dependent Variable: Tingkat Materialitas

Sumber : Data Diolah SPSS

Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji t pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji t lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variable independen terhadap variable dependen.




Tabel 5
Hasil UJI T
Coefficients

Unstandardized Coefficients

Standar dized Coefficients


Model
B
Std Error
Betta
T
SIG
(Constant)
14,774
11,243

1,314
,195
Pengabdian Terhadap Profesi
,054
,228
,027
,236
,815
Kewajiban Sosial
,054
,260
,026
,207
,837
Kemandirian
,826
,333
,323
2,480
,017
Keyakinan Terhadap Profesi
,805
,289
,322
2,791
,007
Hubungan Sesama Profesi
,125
,175
,081
,713
,479
Etika Profesi
1,575
,329
,543
4,791
,000

A.Dependent Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS

1.      Pengaruh pengabdian terhadap profesi terhadap tingkat materialitas.

Dari hasil pengujian hipotesis variabel pengabdian terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,815 dan thitung 0,236. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.

2.      Pengaruh kewajiban sosial terhadap tingkat materialitas.

Dari hasil pengujian hipotesis variabel kewajiban sosial diperoleh nilai p value sebesar 0,837 dan thitung 0,207. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka kewajiban sosial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.

3.      Pengaruh kemandirian terhadap tingkat materialitas.

Dari hasil pengujian hipotesis variabel kemandirian diperoleh nilai p value sebesar 0,017 dan thitung 2,480. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka kemandirian berpengaruh terhadap tingkat materialitas.

4.      Pengaruh keyakinan terhadap profesi terhadap tingkat materialitas.

Dari hasil pengujian hipotesis variabel keyakinan terhadap profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,007 dan thitung 2,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.

5.      Pengaruh hubungan sesama profesi terhadap tingkat materialitas.


Dari hasil pengujian hipotesis variabel hubungan dengan sesama profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,479 dan thitung 0.713. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka hubungan dengan sesama profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.


6.      Pengaruh etika profesi terhadap tingkat materialitas.

Dari hasil pengujian hipotesis variabel etika profesi diperoleh nilai p value sebesar 0,000 dan thitung 4,791. Oleh karena p value lebih besar dari 0.05, maka etika profesi berpengaruh terhadap tingkat materialitas.


Hasil Persamaan Regresi
Tabel 6
Hasil Persamaan regresi


Unstandardized coefficients                   

Model
B
Std. error
Constant
14,774
11,243
Pengabdian terhadap profesi
,054
,228
Kewajiban social
,054
,260
Kemandirian
,826
,333
Keyakinan Terhadap Profesi
,805
,289
Hubungan Sesama Profesi
,125
,175
Etika Profesi
1,575
,329

A.Dependent Variable: Tingkat Materialitas
Sumber : Data Diolah SPSS


Y= 14.774 + 0,054 X1 + 0,054 X2 + 0,826 X3 + 0,504 X4+ 0,125X5+ 1,575X6
Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) mengukur berapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variable independen.

Tabel 7
Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R
²)
Model SummaryB


Model
R
R
Square
Adjusted
R
Square
Std
Error of
The
Estimate
1
,632
,399
,327
475,071


a. Predictors: (Constant), Etika Profesi, Kewajiban Sosial, Keyakinan pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, Pengabdian pada Profesi, Kemandirian

b. Dependent Variable: Tingkat Materialitas

Sumber : Data Diolah SPSS

PEMBAHASAN
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel pengabdian terhadap profesi yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai pengabdian terhadap profesi (Sign t) 0,815> 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, pengabdian terhadap profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 0,236 < ttabel 2,008, artinya pengabdian terhadap profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa pengabdian terhadap profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel kewajiban sosial yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai kewajiban sosial (Sign t) 0,837 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, kewajiban sosial dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 0,207 < ttabel 2,008, artinya kewajiban sosial secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan Mardiyah (2006) yang menyatakan bahwa kewajiban sosial tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel kemandirian yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai kewajiban sosial (Sign t) 0,017 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, kemandirian dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 2.480 > ttabel 2,008, artinya
kemandirian secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Theresia dkk (2003) dan Rahmawati (1997) yang menyatakan bahwa kemandirian berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel keyakinan terhadap profesi yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai keyakinan terhadap profesi (Sign t) 0,007 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, keyakinan terhadap profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 2,791 > ttabel 2,008, artinya keyakinan terhadap profesi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa keyakinan terhadap profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.


Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel hubungan sesama profesi yang dimasukkan dalam regresi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai hubungan sesama profesi (Sign t) 0,479 > 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, hubungan sesama profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 0,713 < ttabel 2,008, artinya hubungan sesama profesi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi (2008) yang menyatakan bahwa hubungan sesama profesi tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel etika profesi yang dimasukkan dalam regresi berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hal ini diketahui bahwa nilai etika profesi (Sign t) 0,000 < 0,05. Selain dilihat dari nilai probabilitas, etika profesi dapat pula dilihat dari nilai thitung, dan diketahui nilai thitung 4,791 > ttabel 2,008, artinya etika profesi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arleen Herawaty dan Yulius Susanto (2009) yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.


KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan sebagai berikut Secara simultan Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Materialitas. Sedangkan secara parsial variabel Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, ada tiga variabel yang berpengaruh terhadap tingkat materialitas yaitu : kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan etika profesi. Sedangkan pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial, dan hubungan sesama profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.